单诌
2019-05-22 01:14:06
2016年7月26日下午9点44分发布
2016年7月26日下午10:14更新

Bus yang digunakan untuk memindahkan terpidana mati kasus narkotika Merry Utami dari Lapas Wanita Tangerang,Banten,untuk menempati ruang isolasi Lapas Besi Nusakambangan,Cilacap,Jawa Tengah,pada 24 Juli 2016. Foto oleh Idhad Zakaria / Antara

Bus yang digunakan untuk memindahkan terpidana mati kasus narkotika Merry Utami dari Lapas Wanita Tangerang,Banten,untuk menempati ruang isolasi Lapas Besi Nusakambangan,Cilacap,Jawa Tengah,pada 24 Juli 2016. Foto oleh Idhad Zakaria / Antara

雅加达,印度尼西亚 - Pemerintah印度尼西亚telah mempersiapkan 14 narapidana mati untuk eksekusi tahap III yang akan berlangsung pekan ini。 Nama Merri Utami,别名MU,dikabarkan masuk dalam daftar tersebut。

Saat ini,ibu beranak dua itu sudah ditempatkan di ruang isolasi Lembaga Pemasyarakatan(Lapas)Nusakambangan,Cilacap,Jawa Tengah,sejak Minggu,24 Juli。 Komisi Nasional(Komnas)Perempuan baru saja mengunjungi dan berbincang dengan Merri serta 4 terpidana mati perempuan lain。

“Kami menemukan fakta adanya kerentanan berlapis terhadap nasib perempuan-perempuan ini,”kata Wakil Ketua Komnas Perempuan Yuniyanti Chuzaifah dalam konferensi pers di kantornya pada Selasa,26 Juli。

Ia menemuan kalau sebagian besar perempuan terpidana mati memiliki latar belakang serupa:buruh migran dan lemah secara finansial。

Korban KDRT

Nasib serupa jualah yang menimpa Merri,yang sejak 1990-an sudah menjadi buruh migran di Taiwan。 Kepada komisioner Komnas Perempuan,Merri mengatakan kalau awalnya dipaksa oleh sang suami。

Setelah 2 tahun berlalu,Merri mengetahui kalau suaminya ternyata tidak memanfaatkan uang yang dikirimnya dari sana dengan baik。 Selama Merri membanting tulang,suaminya justru berfoya-foya dengan berjudi dan membeli miras - bahkan berselingkuh dengan perempuan lain。

Setiap kembali ke印度尼西亚,Merri juga kerap menerima perlakuan kasar。 Pada usia 25 tahun,ia memutuskan untuk bercerai,namun tetap bekerja di Taiwan untuk menghidupi dua anaknya。

Pada 2001,ia bertemu dengan Jerry - oknum pria yang kelak menjebloskannya dalam sindikat narkoba - saat mengurus dokumen kerja di Sarinah,Jakarta。

“Jerry mengaku sebagai warga negara Kanada dan memiliki bisnis dagang di Indonesia,”kata Yuniyanti。

Berangkat dari pertemuan tersebut,keduanya kemudian menjalin hubungan asmara selama tiga bulan。 Menurut pengakuan Merri,Jerry adalah sosok yang mesra dan romantis。 Akhirnya,pada 16 Oktober 2001,mereka sepakat untuk melancong ke Nepal。

Keanehan muncul saat Merri,yang janjian bertemu dengan Jerry di Thailand saat transit,justru ditinggal terbang。 Akhirnya,mereka bertemu di Nepal dan berlibur selama 3 hari。

Jerry akhirnya pamit duluan ke Jakarta pada 20 Oktober 2001,dengan dalih mengurus bisnis。 Ia meminta Merri untuk tetap tinggal di Nepal karena ada barang yang hendak diberikan。

“Itu adalah tas tangan,karena menurut dia tas Merri sudah jelek,”kata Komisioner Advokasi Internasional Komnas Perempuan Adriana Venny。 Barang tersebut baru diserahkan sepekan kemudian lewat dua teman Jerry,Muhammad dan Badru。

Merri sempat bertanya mengapa tas terse but berat。 Keduanya berkilah kalau tas itu terbuat dari kulit asli yang berkualitas bagus dan kuat。 Belakangan diketahui kalau di bagian dalamnya telah disisipi heroin seberat 1,1千克。

Setelahnya,pada 31 Oktober 2001,Merri kembali Indonesia lewat Bandara Internasional Soekarno-Hatta。 Selama penerbangan,ia membawa serta tas tangan pemberian itu di dalam kabin。

Ia sudah sempat meninggalkan bandara dan hampir menaiki taksi,saat teringat kalau kopernya tertinggal。 “Merri senang sekali,karena kata Jerry kalau kembali ke Jakarta mau dinikahi,”kata Venny。

Merri masuk kembali ke bandara untuk mengambil kopernya di bagian Lost&Found Namun,saat hendak keluar,petugas meminta supaya tas tangannya dipindai di mesin X-ray。

Karena merasa tidak menyembunyikan barang terlarang,Merri menyerahkan tasnya。 Dari situlah terungkap keberadaan海洛因。 Panik,ia pun segera menghubungi Jerry dan teman-temannya。 Namun,hasilnya nihil。

Kekerasan saat interogasi

Merri diboyong polisi bandara(Polsek Cengkareng)untuk pemeriksaan lebih lanjut。 Di situ,ia menerima siksaan berupa pukulan bertubi-tubi。 “Supaya ia mau mengaku sebagai pemilik heroin,”kata Venny。

Karena bungkam,ia pun dibawa ke tempat lain,yaitu sebuah hotel di mana beberapa interogator menggerayangi tubuhnya,bahkan mencoba memerkosa。 Hal tersebut tidak berhenti saat akhirnya ia dibawa ke reserse narkoba Polri,yang tidak menghentikan siksaan terhadap dirinya。

“Ia sampai mengaku berpuasa supaya tidak disiksa,tapi tetap dipukuli,”kata Venny。 Kondisi ini juga yang membuatnya menandatangani Berita Acara Pemeriksaan(BAP)tanpa memahami detil dokumen tersebut。

Akibat siksaan tersebut,Merri mengalami gangguan penglihatan,di mana sering ada kilat putih yang memburamkan pandangannya。

Persidangan tak adil

Saat persidangan pertama di Pengadilan Tangerang,Merri hanya didampingi pengacara negara,yang menurut Komnas Perempuan tidak terlalu getol melakukan pembelaan。 Hakim juga cenderung tutup telinga pada semua pembelaan Merri。

Dua fakta yang semakin memberatkan adalah,pandangan hakim yang tidak percaya kalau ia adalah korban penipuan。 “Dalihnya,semua kurir narkoba juga selalu memakai alasan sama,”kata Komisioner Subkomisi Hukum dan Kebijakan Sri Nurherwati。

Selain itu,ternyata Merri Utami bukanlah nama asli,melainkan alias yang digunakan oleh agen perjalanan guna memuluskan dokumen Merri kerja di luar negeri。

“Menurut hakim,alasan dia mengubah nama adalah karena mau jadi kurir di Nepal.Padahal bukan,”lanjut Nur。

Atas pertimbangan tersebut,Merri dijatuhi hukuman mati pada putusan tingkat pertama。 Berbagai upaya,lewat banding maupun kasasi,selalu ditolak。 Permintaan Peninjauan Kembali(PK)juga ditolak。

“Sudah keluar dari Agustus 2015,tapi baru diberikan ke PN Tangerang Maret 2016,”kata Nur。

Saat ini,Merri dan pengacaranya menunggu grasi dari主持会议。

Menunggu mati

Sudah hampir 15 tahun Merri mendekam di penjara。 Berdasarkan wawancara Komnas Perempuan dengan petugas lapas,ia sangat aktif dalam kegiatan pembinaan。

“Ia rajin menanam tanaman organik,juga membuat lagu spirit dan kerajinan tangan,”kata Yuniyanti。 Merri juga kerap memberi penguatan kepada sesama warga binaan,terutama bagi yang mendapat pidana seumur hidup dan sesama terpidana mati。

Selama itu pula,ia diasingkan oleh keluarganya。 Saat anak perempuannya menikah,mantan suami Merri mengatakan kalau“ibunya sudah meninggal。” Keluarga yang lain pun tak ada yang mencoba mengunjungi。

Satu-satunya yang masih peduli adalah sang putri yang rutin berkunjung。 “Merri bilang kalau putrinya percaya dia tidak bersalah,dan itu sudah cukup baginya,”kata Yuniyanti。

Perspektif lain memandang korban

Ketua Komnas Perempuan Azriana berharap主持akan memberikan grasi kepada Merri,dan dapat melihat permasalahan narkoba ini dari perspektif gender。 “Hukuman mati hanya menghilangkan korban,tokoh,tetapi tidak jaringannya,”kata dia。

Menurut Azriana,sebenarnya yang harus dibongkar adalah jaringan sindikat narkoba,yang terus menjebak perempuan Indonesia yang miskin dan rentan untuk menjadi kurir。 Bila tidak terbongkar dan para pelaku tetap berkeliaran,maka masih ada banyak Merri Utami lainnya di luar sana,yang akan terjerat。 - Rappler.com