温置
2019-05-22 14:43:03
2016年7月13日下午1:10发布
2016年7月13日下午3:46更新

Ketupat jembut,makanan kas warga三宝垄pada 1 Syawal。 Foto oleh Fariz Fardianto

Ketupat jembut,makanan kas warga三宝垄pada 1 Syawal。 Foto oleh Fariz Fardianto

SEMARANG,印度尼西亚 - Mentari belum menampakan sinarnya,tapi Nizam Ali sudah bergegas keluar rumah pukul 04:30 WIB。 Ia menghampiri teman sebanyanya yang sibuk menyalakan petasan sebagai penanda jatuhnya 1 Syawal pada Rabu pagi,13 Juli。

Tak lama kemudian,Nizam,demikian dia biasa disapa,berlarian menuju depan rumah warga。 Di sana,banyak orang sudah menunggunya sambil menenteng ketupat jembut。 Tangan-tangan kecil pun berebut mengambil ketupat jembut yang berisi potongan sayuran tersebut。

“Ini namanya kupat'jembut',Mas.Kalau pas Syawalan makan kupat'jembut'cuma di sini,”kata Nizam kepada Rappler sambil berebut ketupat di Kampung Jaten Cilik Pedurungan,Semarang,Jawa Tengah。

Ketupat jembut atau kupat dalam logat Jawa sejak lama menjadi santapan wajib bagi warga setempat。 Warga biasa menyebut'jembut'pada ketupat itu karena di bagian tengahnya diisi potongan kubis,tauge dan sambal kelapa。

Azril bocah lainnya mengatakan,ada rasa renyah dan gurih saat menyantap ketupat jembut。 Tak ada rasa jijik,meski namanya sekilas mirip器官重要的manusia。 “Dimakan langsung enak enggak usah pakai sayur,”akunya。

Dibuat pertama kali oleh pasutri pada 1960

Berdasarkan penuturan warga Kampung Jaten Cilik,ketupat jembut pertama kali diperkenalkan oleh Haji Samin dan Salamah,pasutri asal Mranggen Demak yang mendirikan kampung tersebut。

Keduanya semula bermigrasi dari Demak pada 1960 silam saat situasi keamanan sedang bergolak。 Saat itu,mereka memperkenalkan budaya makan ketupat yang menjadi ciri khas masyarakat Jawa dalam memperingati enam hari pasca lebaran。

“Lalu,ada ide membuat ketupat yang beda dari yang lain.Maka,beliau mengiris bagian tengahnya kemudian dimasukan kubis tauge dan sambal kelapa parut,”kata Munawir,warga asli Kampung Jaten Cilik。

Supaya warga tertarik,Haji Samin berulang kali memukul-mukul wajan tepat saat azan Subuh berkumandang。 Waktu yang dipilih pun berbarengan dengan 1 Syawal agar pesta makan ketupat lebih semarak。

Petasan双关语juga dinyalakan untuk memulai pesta makan ketupat saat Syawalan。 “Di Indonesia,tradisi makan kupat jembut ini hanya ada di Semarang dan selalu dirayakan setiap Syawalan,”ungkap Munawir lagi。

Saat ini,ketupat jembut tak hanya diisi kubis dan taoge namun juga diselipkan uang kertas untuk dibagikan buat anak-anak kampung。 Itung-itung buat sedekah,katanya。

“Waktu pertama kali digelar,baru lima warga yang ikut rebutan kupat jembut.Tapi sampai sekarang ada 250 orang yang ikut acaranya,”lanjutnya。

“Ketupat jadi simbol perdamaian umat穆斯林.Karena itulah,bentuk ketupat yang menyerupai segi empat adalah simbol berjabat tangan pertanda antar umat Muslim saling memaafkan,”jelasnya。

Ketupat'jembut'habiskan 3公斤beras

Pesta ketupat jembut kian semarak pada tahun ini karena banyak warga perantau yang memilih mudik pada hari ini。 Orang-orang yang biasanya kerja di Jakarta dan Bandung,kini pulang kampung agar dapat ikut pesta makan ketupat。

“Kita bentuk panitia biar tambah ramai dan tertib.Tadi ada banyak orang makan ketupat di serambi Masjid Radhotul Mutaqien.Biar tambah akrab,”katanya

Seorang ibu warga kampung setempat bilang membuat ketupat jembut cukup mudah。 Ia mula-mula hanya menganyam janur(daun bambu)membentuk segi empat lalu dimasukan beras sampai terisi penuh。

Setelah dimasak selama enam jam,ketupat yang telah berisi nasi itu lalu dibelah pada bagian tengahnya untuk dimasukan irisan kubis dan tauge。 “Tiga kilo beras habis buat bikin 100 ketupat.Kalau kubis dan taugenya cuma butuh sekilo,”katanya。

Ia beranggapan makan ketupat beramai-ramai sebagai sedekah,rasa syukur atas nikmat Allah SWT sekaligus pelengkap ibadah puasa yang telah dijalani selama 30 hari penuh。 - Rappler.com