太史佗
2019-05-22 11:07:12
发布于2016年7月12日上午9:45
更新于2016年7月12日上午9:45

雅加达,印度尼西亚 - Dalam kasus yang kesekian kalinya tahun ini,seorang anak perempuan berusia 5 tahun ditemukan terbunuh。 NNA,anak bungsu Fathurahman,Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Keadilan Sejahtera(DPC PKS)di Sangkulirang,Kutai Timur,Kalimantan Timur,dilaporkan menghilang sebelum ditemukan tanpa nyawa,diduga dibunuh。

Pada jasad sang balita - yang ditemukan di semak-semak dan tertutup dahan pohon kelapa - ada luka bakar di tangan sebelah kanan dan kepalanya。

“[Pada Minggu,10 Juli] sekitar pukul 10:00 WITA,ditemukan jasad seorang anak perempuan berusia lima tahun,diduga sebagai korban pembunuhan,”kata Kasat Reskrim Polres Kutai Timur Ajun Komisaris Andika Dharma Sena,kepada media Kalamanthana,Senin,11 Juli 。

Polres Kutai Timur kini memburu seorang pria paruh baya yang diduga pelaku pembunuhan。

Kronologi hilangnya NNA

Sejak Kamis,8 Juli,sekitar pukul 11​​ siang WITA,NNA dilaporkan hilang oleh keluarganya setelah dirinya keluar rumah dan naik sepeda motor。 Ayahnya melapor ke Polsek Sangkulirang karena ia mencurigai sang anak diculik dengan kedok diajak jalan-jalan oleh tetangganya。

“Kami menduga oknum itu karena ada yang melihat [NNA bersama oknum itu]。 Ketika kami datangi kediamannya ia tidak ada,sedangkan handphone -nya tidak aktif。 Kami akui hubungan kami dengan dia itu baik-baik saja selama ini,bahkan seperti keluarga saja,“kata Fathurahman kepada pada ,9 Juli。

“Kini sudah dilakukan pencarian terhadap Ij [terduga oknum]。 Apakah ia tersangka atau tidak tergantung pemeriksaan meski ada saksi melihat sebelum [NNA] hilang sempat diajak naik sepeda motor oleh Ij,“kata Kapolres Kutim AKBP Rino Eko kepada 。

Menanggapi meninggalnya NNA,Ketua Majelis Syura PKS Salim Segaf mengimbau melalui akun media sosial pribadinya kepada seluruh kader partai untuk berdoa takziyah untuk NNA dan melaksanakan salat gaib agar pelaku terungkap。

Perppu Perlindungan Anak belum efektif

Ledia Hanifa,Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat(DPR RI)dari Fraksi PKS,menyatakan,“Ini adalah ujian untuk Perppu yang kemarin dikeluarkan Presiden”。

“Dan ini juga berarti hukuman yang ditentukan Perppu itu tidak cukup membuat pelaku mengurungkan niatnya。”

“Buat kami ini sangat menyedihkan。 Kami berharap ini kasus terakhir tetapi persoalan-persoalan seperti ini akan muncul lagi,“kata Ledia。

Ia menegaskan bahwa melindungi anak untuk mencegah kasus serupa terjadi adalah tanggung jawab keluarga。

Perlindungan terhadap anak,menurut Ledia,perlu disosialisasi kepada keluarga dan orang-orang dekat,mengingat pelaku secara umum adalah orang-orang dekat korban。

Selain itu,penegak hukum juga harus memahami Undang-Undang Perlindungan Anak。 “Jadi kalau ada kasus,tuntutannya bisa maksimal,agar tidak ada lagi kasus seperti ini,”kata Ledia。

Sebelumnya,Presiden Joko“Jokowi”Widodo telah mengesahkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang(Perppu)nomor 1 tahun 2016 perubahan kedua nomor 23 tahun 2002 mengenai perlindungan anak。

Dalam Perppu yang baru diteken itu,pelaku tindak kejahatan seksual terhadap anak,dapat diancam dengan hukuman mati。

“Kekerasan terhadap anak sudah saya tetapkan sebagai kejadian luar biasa karena dapat merusak pribadi dan tumbuh kembang anak.Selain itu,juga menganggu ketenteraman dan kenyamanan di masyarakat,sehingga perlu penindakan luar biasa,”kata Jokowi ketika mengumumkan di Istana Negara pada 25 Mei。

Dalam Perppu itu terdapat pidana tambahan bagi pelaku tindak kekerasan seksual terhadap anak dan pelaku tindak pencabulan。

“Pemberatan pidana berupa tambahan 1/3 dari ancaman pidana yang dijatuhkan yakni bisa pidana mati,penjara seumur hidup atau paling singkat hukuman bui 10 tahun hingga paling lama 20 tahun.Selain itu,juga diberlakukan pengumuman identitas pelaku,”kata Jokowi。

Selengkapnya baca:

Peran orangtua

Sementara,Ketua Divisi Sosialisasi Komisi Perlindungan Anak Indonesia(KPAI)Erlinda Iswanto menyatakan pihaknya mendorong kepolisian mengungkap tuntas kasus ini agar jangan ada lagi korban seperti NNA。

“Orangtua juga wajib dimintai keterangan agar semua tabir terungkap,”kata Erlinda。

KPAI berharap kasus-kasus seperti yang menimpa NNA diminimalisir dengan cara meningkatkan kepedulian semua orang terhadap lingkungan sekitar,khususnya pada masa ketika masyarakat sibuk dengan suatu hal,seperti perayaan Idulfitri。

“Kejahatan bisa saja terjadi akibat kelalaian maupun kesempatan,”katanya。

Namun,anak usia lima tahun bisa dan harus dilindungi dengan cara diawasi orangtua karena mereka belum bisa menjaga diri sendiri。

“Kalaupun orangtua sibuk atau tak bisa mengawasi,harus ada orang dewasa lain yang mengawasi,”kata Erlinda。

Oleh karena itu,menurutnya penting bagi orangtua untuk membangun komunikasi kepada anak serta masyarakat lingkungan。

“Doktrin anak supaya waspada,kalau ada yang menyakiti dia,suruh teriak。 Titip-titip anak ke lingkungan agar orang lain juga mengawasi dan melindungi anak,“ujar Erlinda。

Menurut Erlin,perlu ada semacam relawan perlindungan anak atau satgas sehingga jika ada yang mencurigakan,pihak tetangga dan komunitas menjadi“CCTV berjalan。”

Negara dan pemerintah juga perlu hadir lewat perangkat-perangkat desa,hansip,relawan sahabat anak,satgas perlindungan anak,babin kamtibmas,babinsa; bekerja sama dengan masyarakat untuk mengatur patroli dan membangun sistem pertahanan atau perlindungan bagi anak。

“Peran negara sudah banyak dilakukan,tapi belum maksimal karena negara ini luas,ada 34 provinsi,pemerintah pusat dan daerah,dan kadang pemerintah daerah kurang peduli,”ujar Erlinda。 -Rappler.com