太史佗
2019-05-22 06:13:26
发布时间2016年7月6日上午4:41
更新时间2016年7月6日上午4:41

PERBATASAN INDONESIA DAN FILIPINA。 Kapal TB Charles kembali ke perairan Balikpapan usai dibajak oleh kelompok milisi bersenjata Filipina pada tanggal 20 Juni。 Foto oleh TNI Angkatan Laut

PERBATASAN INDONESIA DAN FILIPINA。 Kapal TB Charles kembali ke perairan Balikpapan usai dibajak oleh kelompok milisi bersenjata Filipina pada tanggal 20 Juni。 Foto oleh TNI Angkatan Laut

SAMARINDA,印度尼西亚 - Di saat orang lain menyambut Idul Fitri dengan suka cita,pilu justru tengah dirasakan oleh anggota keluarga Anak Buah Kapal(ABK)TB Charles。 Sebab,hingga hari Idul Fitri tiba,kejelasan nasib mereka belum diketahui pasca diculik oleh kelompok milisi bersenjata Filipina pada tanggal 20 Juni lalu。

Elona,istri Robin Piter,juru mudi TB Charles berharap suaminya bisa kembali di hari Lebaran。 Dia tetap ingin suaminya menjadi imam di dalam rumah tangga。

“Siapa tahu ada mukjizat,suami saya bisa pulang dan berlebaran bersama kami di rumah,”ujar Elona yang ditemui Rappler pada Minggu,3 Juli di kediamannya。

Bertugas sebagai seorang pelaut,suaminya memang jarang berada di rumah,apalagi saat Lebaran。 Robin lebih sering banyak menghabiskan waktunya di kapal。

Tetapi,kali ini dia dan ke-6 ABK lainnya ditawan oleh kelompok milisi bersenjata di Filipina selatan。 Besar kemungkinan pelaku berasal dari kelompok Abu Sayyaf。

Penculikan sudah memasuki hari ke-17,tetapi tak ada tanda-tanda sandera akan bebas。 Bahkan,hingga saat ini,Elona belum bisa mendengar suara Robin。 Sejak Robin dipastikan diculik,dia belum bisa dihubungi。

Absennya suami menyebabkan dia tak memasak rendang yang menjadi menu favorit suami di saat perayaan Idul Fitri。

“Suami saya paling senang rendang。 Tapi,karena dia tidak ada saat ini,saya hanya akan memesan makanan untuk anak-anak,“kata dia。

Dari ketiga buah hatinya,putra bungsunya,Bino yang masih berusia 5 tahun mengaku sangat rindu terhadap ayahnya。 Sejauh ini,perusahaan tempat Robin bekerja,PT Rusianto Bersaudara memastikan ke-7 ABK dalam kondisi baik。 Namun,Elona merasa itu tak cukup。

“Saya juga mau tahu bagaimana upaya pembebasannya。 Kapan suami saya bisa kembali ke rumah?“tanya dia yang mengaku semakin sedih saat melihat wajah anak-anaknya。

Kesedihan Elona juga dirasakan oleh istri ABK lainnya,Dian Megawati Ahmad。 Suaminya,Ismail yang bekerja sebagai Mualim I TB Charles juga ikut diculik ketika tengah berlayar dari Filipina selatan menuju ke Samarinda。 Dia mengaku减少untuk bersabar oleh pihak perusahaan。 Tetapi,tidak tahu hingga kapan。

Sementara,juru bicara PT Rusianto Bersaudara,Taufiq Qurrohman mengatakan tak bisa memberikan informasi banyak kepada media mengenai upaya pembebasan sandera。 Menurutnya,hal itu sudah masuk ke dalam ranah kerja pemerintah melalui Pusat Krisis yang dibentuk oleh Kementerian Politik,Hukum dan Keamanan。 Luhut Panjaitan sendiri yang memimpin badan tersebut。

“Kami di daerah,hanya bisa menerima informasi saja。 Yang pasti kondisi ke-7 ABK dalam kondisi sehat,“ujar Taufiq。

Tetapi,dia tidak merinci lebih jauh upaya pembebasan,termasuk apakah pihak perusahaan menyiapkan uang tebusan yang diminta yakni sebesar 20 juta Ringgit Malaysia atau sebesar Rp 65 miliar。

“Prinsipnya kami siap,kami juga diminta menyiapkan sesuatu。 Tetapi,bentuknya apa masih belum diketahui hingga saat ini,“kata dia。

Langgar暂停

TB Charles tetap berlayar ke Filipina selatan untuk mengangkut batu bara justru di saat sebelumnya telah diterbitkan moratorium dari Menteri Perhubungan。 Menurut keterangan dari TNI Angkatan Laut,kapal TB Charles Dan Tongkang Robby berangkat dari Philipina Cagayan De Oro Port menuju ke Samarinda dengan mengangkut 13 ABK。

Dalam perjalanan,pada Senin,20 Juni sekitar pukul 11​​:30 di perairan Laut Jolo,kapal TB Charles didekati dua perahu yang memuat 4-5 orang。 Salah satu di antara mereka membawa senjata api laras panjang dan berkomunikasi dengan Bahasa Melayu。

Tetapi,mengapa kapal tetap berlayar sementara moratorium Menhub belum dicabut? Menurut penuturan Kepala Kantor Kesyahbandaran Otoritas Pelabuhan Samarinda,Yus K. Usmany,mereka telah memperingatkan kepada nahkoda agar tidak melintasi daerah konflik。

Bahkan,ABK juga melampirkan surat pernyataan berisi kesiapan untuk bertanggung jawab atas segala risiko dalam pelayaran tersebut。

SURAT PERNYATAAN。 Surat berisi kesiapan ABK TB Charles bertanggung jawab jika terjadi sesuatu dalam pelayarannya ke Filipina selatan。 Foto oleh Virqo Aryan / Rappler

SURAT PERNYATAAN。 Surat berisi kesiapan ABK TB Charles bertanggung jawab jika terjadi sesuatu dalam pelayarannya ke Filipina selatan。 Foto oleh Virqo Aryan / Rappler

“Kami sudah mengimbau agar tidak melintasi daerah konflik。 Mereka justru melampirkan surat pernyataan siap bertanggung jawab atas segala risko yang bisa terjadi,“ujar Yus。

Dia pun berdalih masalah rute pelayaran adalah kewenangan nahkoda kapal。 Menurutnya,jalur yang ditempuh oleh kapal TB Charles juga dilalui oleh kapal tubgboat penarik batu bara lainnya asal Banjarmasin,Tarakan dan daerah lain。

“Jadi,bukan hanya TB Charles saja yang melintasi area itu。 Masih banyak(kapal)lainnya,“tutur dia。

Akhirnya untuk mencegah kasus pembajakan kembali terulang,Menteri Perhubungan Ignasius Jonan kembali menerbitkan telegram berisi larangan bagi kapal pengangkut batu bara menuju ke Filipina。 - Rappler.com

BACA JUGA: