濮歇效
2019-05-22 11:14:01
2016年7月2日11:36 PM发布
2016年7月2日下午11:36更新

FASTIVAL MALAM PASANG LAMPU。 Warga di Gorontalo menyalakan lampu yang disebut Tumbilohote untuk merayakan ibadah puasa yang akan segera berakhir。 Foto oleh Rosyid / Rappler

FASTIVAL MALAM PASANG LAMPU。 Warga di Gorontalo menyalakan lampu yang disebut Tumbilohote untuk merayakan ibadah puasa yang akan segera berakhir。 Foto oleh Rosyid / Rappler

GORONTALO,印度尼西亚 - Perayaan Idul Fitri tinggal menghitung hari。 Di Gorontalo,warga memiliki tradisi khusus untuk menyambut perayaan Lebaran yakni“Tumbilotohe”。

Dalam Bahasa Gorontalo, tumbilo bermakna pasang dan tohe adalah lampu。 Maka,dapat diartikan Tumbilotohe yakni malam pasang lampu。 Tradisi tersebut sudah dilakukan sejak abad ke-15。

“Tumbilotohe dimulai jelang malam,usai salat Magrib hingga menjelang subuh,”ujar salah satu warga Gorontalo,Hasrul Eka Putra yang ditemui Rappler pada Sabtu,2 Juli。

Di area Bolaang Mongondow(Bolmong),tradisi itu diberi nama“Monuntul”yang berasal dari kata“tuntul”yang berarti alat penerangan。 Jika dibandingkan dengan“Tumbilotohe”,maka tradisi di kedua tempat itu memiliki makna serupa。

Tradisi malam pasang lampu ini dilakukan selama 3 malam berturut-turut dan akan berakhir saat malam takbir。

“Monuntul berarti memberi penerangan。 Selain untuk menyambut perayaan hari kemenangan,tradisi itu juga sebagai bentuk penghargaan kepada orang-orang yang sudah berpuasa,“kata seorang budayawan di Bolmong,Chairun Mokoginta。

Dia menjelaskan“Monontul”sudah menjadi kearifan lokal dan budaya di Bolmong。

Konsep ramah lingkungan

TUMBILOTOHE RAMAH LINGKUNGAN。 Salah satu lampu di festival Tumbilotohe yang menggunakan bahan ramah lingkungan seperti kerang bekas。 Foto oleh Christopel Paino / Rappler

TUMBILOTOHE RAMAH LINGKUNGAN。 Salah satu lampu di festival Tumbilotohe yang menggunakan bahan ramah lingkungan seperti kerang bekas。 Foto oleh Christopel Paino / Rappler

Sementara,di Gorontalo,pemerintah daerah bekerja sama dengan论坛Komunitas Hijau(FKH)哥伦打洛。 Mereka kemudian pernah membuat节日Tumbilotohe。

节日itu berisi partisipasi setiap desa dan kelurahan untuk membuat tumbilotohe terindah,paling kreatif dan ramah lingkungan。 Biasanya,warga menggunakan membuat lampu penerangan dengan bahan bakar minyak tanah。 Tetapi,sejak tahun 2012 lalu,pemda menyarankan agar warga menggunakan listrik,karena harga minyak tanah yang ketika itu membumbung tinggi。

Namun,FKH mengaku ingin membuat sesuatu yang berbeda。 Maka sejak penyelenggaraan festival tahun lalu,FKH mengajak warga untuk membuat tumbilotohe dengan bahan bakar yang ramah lingkungan。

Perwakilan dari FKH menyebut,penggunaan minyak tanah sebagai bahan bakar mahal dan menyebabkan polusi。 Sementara,listrik merupakan pemborosan energi。

“Maka sejak tahun kemarin,kami membuat green tumbilotohe。 Bahannya selain mudah didapat,juga bisa didaur ulang。 Bahan-bahan itu bisa diperoleh dari alam,“kata Awaludin。

Sementara,di tahun ini,panitia mengumpulkan semua lampu yang sudah dibuat saat festival tahun lalu。 Lampu itu dikumpulkan di Taman Moodu,哥打哥伦打洛。

Lampu-lampu itu kemudian disusun dan dipamerkan kepada pengunjung。 Tumbilotohe yang ramah lingkungan,kata Awaludin dibuat dari bahan kulit kimia atau kerang raksasa。 Bisa juga lampu itu dibuat dari bambu,pepaya,kelapa dan buah maja。

“Bahan bakarnya diambil dari getah pohon damar,minyak kelapa yang dicampur air,ethanol hingga minyak nilam,”kata dia。

Sementara di Bolmong,tradisi malam pasang lampu mereka dihidupkan dari pemanfaatan limbah plastik dan kaca seperti lampu dari bekas botol air mineral dan minuman energi。

“Ribuan botol kaca dan plastik dikumpulkan。 Kemudian,diberi sumbu lalu dirangkai di tanah lapang。 Di tengah-tengah dibuat miniatur masjid berbahan bambu dan janur kuning,“ujar Kepala Desa Passi di Bomong,Delianto Bengga。

Ketika malam tiba,maka akan terlihat sangat indah。

Baik tradisi Tumbilotohe dan Monuntul sudah dilakukan setiap tahun。 Selain menjadi objek pariwisata,tradisi itu menjadi kearifan lokal dan pengerat warga untuk bekerja sama di penghujung Ramadan。 - Rappler.com

BACA JUGA: