万掴
2019-05-22 04:42:02
2016年6月25日下午6:10发布
2016年6月25日下午6:10更新

SAMARINDA,印度尼西亚 - Pemerintah akhirnya mengonfirmasi 7 WNI disandera oleh kelompok milisi Filipina pada Jumat,24 Juni。 Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyebut penyanderaan terjadi pada tanggal 20 Juni ketika kapal berlayar dari Filipina selatan menuju ke Samarinda,Kalimantan Timur。

Ini menjadi penyanderaan ketiga yang terjadi pada WNI dalam 6 bulan terakhir,sehingga membuat 。 Menteri Perhubungan,Ignasius Jonan kemudian mengeluarkan maklumat berisi larangan bagi semua kapal untuk melintasi perairan Filipina selatan。

Tetapi,larangan itu justru membuat perusahaan pemilik kapal TB Charles dan tongkang Robby yakni PT Rusianto bersaudara kecewa。 Sebab,permintaan batu bara menuju ke Filipina selatan justru sedang tinggi。 Sementara,di saat bersamaan bidang eksplorasi batu bara kini sedang terpuruk。

“Pelayaran lintas negara dari aspek Filipina,sebenarnya bisa jadi harapan kami untuk menjaga kestabilan ekonomi perusahaan,”ujar Public External Relations PT Rusianto Bersaudara,Taufiq Qurrohman。

Kendati kecewa,tapi mereka tetap mematuhi larangan yang dikeluarkan oleh pemerintah。 Alhasil,mereka membatalkan dua pelayaran lainnya menuju ke Filipina selatan。 Padahal,dua kapal sudah siap bertolak menuju ke Filipina。 Kedua kapal itu bersandar di dermaga PT Rusianto Bersaudara di Sungai Lais,Kecamatan Sambutan,Kota Samarinda,Kalimantan Timur。

Kedua kapal yang batal berangkat itu adalah kapal tunda Berau Coal 69 dan Bloro 25. Menurut informasi dari kru kapal terungkap,seharusnya kapal itu sudah bertolak menuju ke Filipina sejak 4 hari lalu。 Tetapi,kapal tersebut urung berangkat karena belum mengantongi izin。

“Ya,sudah batal(berangkat).Itu kapalnya masih di dermaga.Padahal,batu baranya sudah loading dan siap berangkat,”ujar Ginting,mantan Nahkoda TB Berau Coal 69。

Dia mengatakan semula TB Berau Coal 69 semula akan berangkat menuju ke Manila。 Sedangkan,Bloro 25 berangkat ke Legasvy,Filipina。

“Dua kapal ini akan mengantar batubara.Biasas satu kapal menarik satu tongkang bermuatan minimal 7.500 metrik ton,”tutur dia。

Adanya pembatalan keberangkatan kapal menuju ke Filipina selatan juga diakui oleh Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan(KSOP)Samarinda,Kalimantan Timur,Kolonel Laut Yus K. Usmany pada Jumat kemarin。

“Saya sudah jalankan maklumat itu sekarang.Sebagai bukti,dua pelayaran saya batalkan dengan tujuan ke Filipina,”kata dia。 - Rappler.com

BACA JUGA: