单诌
2019-05-22 04:52:04
2016年6月24日下午9点09分发布
2016年6月24日下午9:09更新

ALQURAN BRAILLE。 Salah satu jemaah tuna netra tengah membaca ayat Alquran braille di sebuah musala。 Foto oleh Syarifah Fitriani / Rappler

ALQURAN BRAILLE。 Salah satu jemaah tuna netra tengah membaca ayat Alquran braille di sebuah musala。 Foto oleh Syarifah Fitriani / Rappler

MAKASSAR,印度尼西亚 - Suara lantunan ayat suci Alquran terdengar sayup-sayup dari sebuah musala yang tidak dilengkapi papan nama。 Saat Rappler memasuki teras musala tersebut,lantunan suara ayat Alquran semakin terdengar jelas。

Di sana terlihat seorang pria yang mengenakan baju koko warna merah。 Pria yang diketahui bernama Herman melantunkan dengan indah bait demi bait ayat kitab pedoman umat Islam itu。

Namun,Herman membaca ayat bukan dari Alquran biasa。 Melainkan dengan huruf盲文。 Butuh waktu cukup喇嘛baginya untuk membaca lembar demi lembar ayat Alquran。 Sebab,di dalam Alquran itu hanya bisa dibaca melalui sentuhan ujung jari。

“Saya juga belajar membaca Alquran tidak cepat.Tetapi,beruntung kami bisa mengaji dengan bantuan Alquran braille ini,”ujar Herman yang ditemui Rappler pada Jumat,10 Juni。

Musala itu dimiliki oleh Yayasan Pembinaan Anak Cacat(YPAC)yang berdampingan dengan Perhimpunan Tuna Netra Republik Indonesia(Pertuni)Sulawesi Selatan,di Jalan Arief Rahman Hakim,Kelurahan Wala-Walayya,Makassar。 Selain Herman,Rappler juga bertemu dengan Riska dan Kashmir yang tengah mengaji di musala yang sama。

Kashmir mengatakan untuk belajar huruf braille,tiap anak membutuhkan waktu yang berbeda-beda。 Ada yang cepat pintar dan langsung menangkap saat diajar,tetapi ada juga yang mengalami kesulitan。

“Bahkan,ada yang butuh waktu hingga berbulan-bulan lamanya,”tutur Kashmir。

Alquran braille yang ada di musala itu sudah berusia cukup tua。 Bahkan,ada berusia puluhan tahun dan sudah terlihat usang,walau masih bisa dibaca。

Setiap bulan Ramadan,musala ini terlihat ramai dikunjungi oleh para penyandang金枪鱼netra。 Mereka mengaku beruntung tersedia Alquran盲文。

“Meskipun kami tidak bisa melihat,tetapi berkat Alquran braille,kami bisa mengaji layaknya orang normal.Bahkan,ada yang bisa menjadi penghapal Alquran,”kata dia。

Bantuan para donatur

Menurut,salah satu jemaah,Riska,sebagian besar koleksi Alquran braille di musala merupakan bantuan。 Beberapa Alquran antara lain diberikan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Departemen Agama pada tahun 1995。

Tahun 2015 lalu,musala juga menerima sumbangan berupa 10 paket Alquran dari Yayasan Penyantun Wyata Guna Bandung。

Harga satu设置了Alquran盲文juga tak murah。 Satu set bisa mencapai harga Rp 1,6 juta hingga Rp 1,8 juta。

“Tiap setnya berisi 30 buku atau 30 juz。Masing-masing beratnya hampir 25公斤,”kata Riska。

Dia menjelaskan pihak musala menjaga dengan baik koleksi Alquran盲文。 Alquran disusun dengan rapi dalam sebuah rak dan rutin dibersihkan oleh para pengurus musala。

Bagi Riska,bulan Ramadan menjadi berkah karena banyak penyandang cacat yang berkunjung ke musala untuk belajar mengaji hingga waktu berbuka puasa tiba。

“Senang sekali kami bisa mendengar suara lantunan ayat suci Alquran saling bersahutan.Maskipun kami cacat,namun kami bisa ikut tadarus dengan Alquran braille,”kata dia sambil tersenyum。 - Rappler.com