冯菰棵
2019-05-22 10:07:15
2017年11月2日下午5点27分发布
更新于2017年11月2日下午5点27分

para santri Attholibiyah memakai cadar saat berangkat ke madrasah。 Foto oleh Irma Muflikah / Rappler

para santri Attholibiyah memakai cadar saat berangkat ke madrasah。 Foto oleh Irma Muflikah / Rappler

TEGAL,印度尼西亚 - Para siswi berseragam putih abu-abu berjalan santai melintasi jalan desa Muncanglarang Kecamatan Bumijawa Tegal Jawa Tengah。 Paras mereka berbalut cadar hitam sehingga tak terlihat ekspresi maupun bentuk muka。 Hanya bola mata mereka yang terlihat melirak-lirik pada setiap orang yang mereka temui di jalan。

Cadar itu hanya menyisakan bagian mata untuk menatap dunia。 Selebihnya,tubuh perempuan itu tertutup rapat。 Mereka memasuki lingkungan Sekolah Menengah Kejuruan(SMK)Attholibiyah tanpa tegur sapa saat berpapasan dengan siswa laki-laki。

Para siswi ini langsung memasuki kelas khusus perempuan di lantai pertama sekolah。 Sementara lantai dua dipakai untuk ruang pembelajaran khusus pelajar pria。 Sintia Dewi adalah satu di antara siswi yang memakai cadar setiap pergi ke sekolah。

Ia mengaku memakai cadar karena perintah dari pengasuh pesantren Attholibiyah tempat ia tinggal dan menimba ilmu agama。 “Iya aturan pondok harus pakai cadar kata Abah(pengasuh).Saya mengikuti aturan di pondok,”katanya。

Sintia baru mengenal cadar saat masuk ke pesantren awal tahun ajaran 2017 ini。 Sejak mendaftar di pesantren,ia dan orang tuanya sudah diberitahu pengelola soal kewajiban mengenakan cadar di lingkungan pesantren。

Gadis asal Kabupaten Brebes ini awalnya agak aneh ketika memakai cadar di pesantren untuk pertama kali。 Maklum,selama ini dia tidak pernah mengenakan cadar sebelum masuk pesantren。

Apalagi kultur ini dianggap tidak lazim di masyarakat。 Atribut ini sempat membuatnya tak nyaman。 Kulit wajahnya terasa gerah karena udara tak bebas menerpa kulit mukanya。 Hidungnya susah bernafas lantaran terhalang kain。 Namun lambat的发布是一个mengaku bisa beradaptasi dengan kondisi itu。

Sintia hanya mengenakan cadar di lingkungan pesantren。 Ia mengaku tak akan memakai cadar itu saat berada di rumah。 Pandangan miring masyarakat terhadap perempuan bercadar membuatnya tak kuat mental。

“Saya pernah mengantar istri pengasuh pesantren berangkat haji.Di jalan kami diteriaki ninja dan ISIS.Saya sakit hati,”katanya。

Iin Asruriah,santri asal Purbalingga Jawa Tengah awalnya risih dan malu saat pertama kali memakai cadar。 Apalagi atribut itu biasa diidentikkan dengan orang berpaham radikal。

Namun,sebagaimana Sintia,lambat laun ia terbiasa。 Iin bahkan mengaku beruntung mengenakan cadar karena terhindar dari kesempatan berpacaran yang bisa mengganggu belajarnya。

Baik Sintia maupun Iin mengaku hanya memperoleh pengetahuan tunggal ihwal kewajiban memakai cadar itu dari pengasuh dan pengurus pesantren。

Mereka mengaku tak bisa mengakses informasi lain mengenai hal itu di luar guru mereka。 Tidak ada perpustakaan yang memadai di pesantren untuk berburu referensi di luar pengetahuan yang didapat dari guru mereka。 Akses informasi melalui media televisi juga ditutup bagi santri。

“Satu satunya akses informasi biasanya kami bawa koran di sekolah ke pondok untuk dibaca.Sebenarnya saya juga ingin bisa akses informasi lain atau referensi,namun di pesantren gak ada perpustakaan,”katanya。

Siswi buka cadar

Dua siswi nampak malu malu menurupi kerudungnya setelah cadarnya diminta pihak sekolah untuk dilepas。 FOTO oleh Irma Muflikah / Rappler

Dua siswi nampak malu malu menurupi kerudungnya setelah cadarnya diminta pihak sekolah untuk dilepas。 FOTO oleh Irma Muflikah / Rappler

Suasana ruang kelas 10 SMK Attholibiyah agak riuh saat para siswi secara serentak membuka cadar mereka untuk pertama kali sejak masuk ajaran baru 2017。

Hari itu,Selasa 2017年10月31日,pihak sekolah mulai menyosialisasikan Permendikbud Nomor 45 tahun 2014 tentang standar pamakaian seragam khas muslimah。 Para siswi ini pun nampak salah tingkah saat pertama kali memperlihatkan para mereka di hadapan guru laki-laki。

Meski cadar terlepas,kebanyakan mereka tetap menutupi wajah dengan kain kerudung yang mereka kenakan。 Sebagian merundukkan kepala di meja hingga wajahnya tak terlihat。

“Ya merasa aneh dan malu,biasanya wajah ini saya tutup namun tiba-tiba suruh buka.Saya dengan guru laki-laki saja masih malu meski sudah pakai cadar di kelas.Apalagi ini harus lepas cadar,”katanya。

Pelepasan cadar di lingkungan sekolah SMK Attholibiyah ini tak lepas dari hasil kesepakatan antara pihak sekolah,pengasuh pesantren dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal sehari sebelumnya。

Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal Akhmad Asari mengatakan,setelah menerima laporan adanya pewajiban siswi bercadar di sekolah oleh pengasuh pesantren Attholibiyah,pihaknya mendatangi pesantren untuk mengklarifikasi hal tersebut。

Pihaknya memberikan teguran halus kepada pengasuh pesantren karena kebijakannya bertentangan dengan aturan pemerintah。 Dalam pertemuan itu,ia menyampaikan aturan seragam sekolah khas muslimah sesuai Permendikbud Nomor 45 Tahun 2014 yang tidak menyebut pemakaian atribut cadar untuk siswi muslimah。

Permendikbud itu mengatur,standar seragam sekolah khas muslimah meliputi kemeja putih lengan panjang hingga pergelangan tangan lengkap dengan jilbab putih,rok panjang sampai mata kaki,serta kaus putih minimal 10 cm sampai atas mata kaki。

Kendati menang dari sisi regulasi,Akhmad tetap memilih win win解决方案untuk menyelesaikan masalah ini。 Santri masih diperkenankan memakai cadar namun saat masih berada di luar lingkungan sekolah formal。

Saat memasuki ruang kelas,mereka wajib melepas cadar hitam sampai mereka meninggalkan sekolah setelah pembelajaran selesai。

“Kami selesaikan ini secara kekeluargaan.Intinya ini kan kebijakan pengasuh pesantren.Kalau dia sudah legawa terima kesepakatan ini ya ga ada masalah,”katanya。

Akhmad tak merasa mengekang kebebasan para santri untuk mengenakan cadar saat bersekolah。 Menurut dia,apapun alasannya,aturan pemerintah harus dipatuhi dan diimplementasikan dengan benar。

Ia pun tak menyangsikan para siswi ini terkaget saat harus melepas cadar di kelas。 Namun,kecanggungan mereka lambat发布akan memudar seiring berjalannya waktu。

Ia pun menegaskan akan memberikan teguran sama kepada penyelenggara sekolah lain jika berani mewajibkan pemakaian cadar di sekolah formal。

“Kalau dari segi kurikulum,SMK Attholibiyah tidak ada masalah.Kurikulumnnya sama,tidak ada materi radikal,”katanya。

Menurut Kepala SMK Kustanto Widyatmoko,para siswi yang mengenakan cadar di sekolahnya hampir setahun ini,mulai tahun ajaran 2017/2018 ini。 Kebijakan ini murni inisiatif pengasuh pesantren Attholibiyah,bukan pihak sekolah。

Pihak pesantren mewajibkan santri putrinya memakai cadar hingga mereka mengikuti pembelajaran di sekolah formal。 Bukan hanya di SMK,para santri putri yang bersekolah di Madrasah Tsanawiyah(MTs)Attholibiyah pun diwajibkan memakai cadar。

“Jadi yang pakai cadar kelihatan itu pasti santri.Kalau tidak santri tidak ada kewajiban.Tapi karena di SMK yang sekolah santri semua,maka semuanya pakai cadar,”katanya。

SMK Attholibiyah yang telah beroperasional selama tiga tahun ini kini memiliki siswa sebanyak 282 orang yang seluruhnya santri pesantren Attholibiyah。

Sekolah yang terletak di kaki gunung Slamet ini memiliki 17 guru,enam di antaranya adalah perempuan。 Dari enam guru perempuan ini,hanya seorang yang memakai cadar。

Selama ini,para siswi perempuan biasa melepas cadar di dalam kelas saat diajar guru sesama wanita。 Mereka tetap bercadar saat diajar oleh guru lelaki。 “Guru memang tidak diwajibkan bercadar.Karena latar belakang mereka bermacam-macam,”katanya。

Kustanto mengatakan,meski siswinya bercadar,bukan berarti pihaknya mengajarkan paham radikal kepada anak didik。 Ia pun berani kurikulumnya diuji jika ada materi yang mengarahkan siswanya mengikuti ajaran radikal。

“Di sini seperti SMK umunnya.Pelajaran agama hanya Pendidikan Agama Islam dan ke NUan,karena kami NU,”katanya。

Pihaknya pun mengaku telah menjalankan hasil kesekapatan antara Dindikbud Tegal dengan pihak sekolah dan pengasuh pesantren。 Pada Selasa itu pihaknya telah meminta seluruh siswa melepas cadar saat dikelas sesuai amanat Permendikbud mengenai aturan standar seragam muslimah。

“Kami belum tahu selama ini soal adanya aturan itu.Dari dinas ke sekolah kami juga baru kemarin,meski siswi di sini sudah pakai cadar hampir setahun,”katanya。

Siswi susah berolahraga

Zaqi Mubarok,guru pendidikan jasmani dan olahraga SMK Attholibiyah merasa kaget dan canggung saat melihat wajah-wajah siswinya untuk pertama kalinya。

Ia seperti menghadapi orang-orang baru dan perlu beradaptasi lagi karena terbiasa mengajar perempuan bercadar。

Saat pertama kali dia mengajar siswi bercadar,awal tahun 2017 lalu,Zaqi merasa sempat susah beradaptasi dengan siswinya。 Ia bahkan butuh waktu satu hingga dua bulan untuk proses adaptasi itu。

Kesulitan pertama yang aa alami saat mengajar siswi bercadar tentu saja mengenali mereka。 Saat semua wajah siswi tertutup cadar hitam dan berseragam sama,nyaris tidak ada pembeda di antara mereka。

Zaqi lambat laun tahu cara mengidentifikasi sebagian siswinya dengan mengenali ciri fisik mereka。 Karena organ yang terlihat hanya mata,ia mengenali siswi siswinya dari bentuk mata yang ternyata masing-masing berbeda。

Selain bentuk mata,pembeda lain yang dilihat Zaqi untuk mengenali siawinha adalah postur tubuh serta karakter suara。 “Tentu saja siswi yang pendiam paling susah dikenali karena jarang terlihat karakter suaranya,”katanya。

Zaqi adalah guru yang paling diuji karena para siswinya memakai cadar。 散文pembelajaran di ruang kelas untuk para siswi bercadar ini tak begitu jadi soal。 Namun Zaqi mengalami kendala saat harus mengajar praktik olahraga para siswi ini di lapangan terbuka。

Pasalnya,saat pelajaran olahraga,para siswi ini enggan melepas cadar dan tetap memakai rok sekolah。 Padahal,dalam pelajaran yang banyak mengandalkan praktek ini,mereka dituntut luwes saat mempraktikkan materi。

Dengan memakai rok,pergerakan mereka tidak leluasa。 Zaqi pun jadi kesulitan saat mengajak mereka mempraktekkan materi olahraga semisal lari,voli,silat atau lompat jauh yang membutuhkan keleluasaan gerak。

Zaqi akhirnya lebih memilih mengajarkan teori olahraga di kelas ketimbang praktik di lapangan karena kondisi demikian。 “Atau saya perlihatkan video di kelas paling tidak mereka tahu gerakan-gerakan olahraganya,meski tidak dipraktekan,”katanya。

阿拉善wajib pakai cadar

Pengasuh Pesantren Attholibiyah Habib Muhammad Al Athos。 FOTO oleh Irma Muflikah / Rappler

Pengasuh Pesantren Attholibiyah Habib Muhammad Al Athos。 FOTO oleh Irma Muflikah / Rappler

Habib Muhammad al Athos,pengasuh pesantren Attholibiyah mengaku menerima kesepakatan antara pihaknya dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tegal mengenai pelepasan cadar di lingkungan sekolah。

Ia tidak akan mempermasalahkan Permendikbud nomor 45 tahun 2014 meski tidak mengakomodir kebebasan siswi mengenakan cadar di sekolah。

Habib Muhammad Al Athos,menjelaskan latar belakang kebijakannya yang mewajibkan memakai cadar bagi santri perempuan di pesantrennya。

Muhammad mengaku prihatin melihat kondisi remaja di zaman kini yang gampang terpengaruh pergaulan bebas。 Sementara di internal pesantren,ia juga sering menerima laporan pelanggaran oleh santri karena ketahuan berpacaran dengan santri lain jenis。

Di sisi lain,di pundaknya,ia memikul amanat dari ribuan wali santri yang menitipkan anaknya agar dibina dengan baik di pesantren。 Muhammad juga terinspirasi oleh model pesantren lain yang dikelola habib yang juga mewajibkan santrinya memakai cadar。

“Kami juga sudah sosialisasikan kepada wali santri saat pengajian bulanan,”katanya。

Tidak semua wali ternyata menerima kebijakan pengasuh pesantren ini。 Muhammad mengaku sempat mendapat pertentangan dari sejumlah wali santri karena tak sependapat dengannya。

Mereka khawatir jika anaknya dituduh mengikuti jaringan radikal hingga dikaitkan dengan kelompok ISIS。 Sejumlah orang tua ini takut terbebani secara mental jika anggota keluarga mereka memakai cadar yang bertentangan dengan kultur kebanyakan masyatakat。

“Beberapa ada yang mau menarik anaknya keluar pesantren karena kebijakan ini.Namun setelah saya sadarkan,mereka tidak jadi,”katanya。

Muhammad ingin melawan stigma pemakaian cadar yang diidentikkan dengan kaum radikal。 Mantan aktivis Banser NU ini mengaku menolak keras paham radikal yang berpotensi merongrong keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia(NKRI)。

Buktinya,kata dia,pihaknya hingga sekarang masih melestarikan tradisi haul atau peringatan kematian leluhur yang berlawanan dengan paham radikal。

Corak pendidikan pesantren,menurut dia,juga mengacu pada ajaran ahlussunah waljamaah melalui kajian kitab kuning atau salaf。 “Cinta air itu bagian dari iman.Jika bukan cinta tanah air berarti bukan umat nabi,”katanya。

Muhammad mengakui sempat mewajibkan santri putrrinya mengenakan cadar di lingkungan pesantren,maupun sekolah mulai Madrasah Ibtidaiyah(MI)hingga SMK。 Ia membebaskan siswi bukan santri di yayasan Attholibiyah untuk tidak mengikuti memakai cadar。

Namun ia justru menganjurkan para santrinya tidak mengenakan cadar saat di rumah agar tak timbul fitnah karena stigma yang melekat di masyarakat terhadap perempuan bercadar terlanjur kuat。

Muhammad mengklaim kebijakan memakai cadar yang diterapkan di pesantren mampu membawa perubahan positif。 Karena tak pernah bertatap muka,para santri tidak berkesempatan memadu kasih atau pacaran。

Dengan demikian,para santri menurut dia bisa terhindar dari pergaulan bebas。 Pergaulan santri dan interaksi mereka dengan dunia luar sangat dibatasi。

Santri tidak diperkenankan membawa handphone baik di lingkungan pesantren maupun sekolah。 Tidak ada saluran informasi lain semisal televisi。

“Hiburan mereka hadroh(musik religi),atau olahraga bagi santri putra,”katanya。 -Rappler.com