松沅
2019-05-22 07:13:20
2016年6月10日上午10:26发布
更新时间2016年6月10日上午10:43

RALAT PERNYATAAN。 STC akhirnya membantah telah menjadi korban pemerkosaan setelah melaporkan kasusnya ke polisi sejak Januari lalu。 Ilustrasi oleh Adinda Maya

RALAT PERNYATAAN。 STC akhirnya membantah telah menjadi korban pemerkosaan setelah melaporkan kasusnya ke polisi sejak Januari lalu。 Ilustrasi oleh Adinda Maya

GORONTALO,印度尼西亚 - STC,perempuan Manado yang mengaku pernah diperkosa oleh 15 pria tiba-tiba meralat pernyataannya。 Di hadapan Polda Gorontalo,perempuan berusia 19 tahun itu mengaku tidak pernah diperkosa。

Kabid Humas Polda Gorontalo,AKBP Bagus Santoso mengatakan STC sudah mencabut laporannya dan kasus ini akan segera ditutup。

“Tidak ada tindak pemerkosaan terhadap diri saya,”ujar STC yang didampingi Ibunya,RS pada Selasa,7 Juni di kantor Polda Gorontalo。

Ralat pernyataan itu disampaikan oleh STC usai dilakukan proses konfrontasi oleh Polda Gorontalo。 Selain itu,STC juga membantah telah menggunakan jasa Novie Kolinug SH sebagai kuasa hukum。

Novie yang berada di kantor Polda Gorontalo pada hari itu memilih untuk tidak membubuhkan tanda tangan pada berkas Berita Acara Pemeriksaan(BAP)。 Kliennya juga mengaku tidak diintimidasi oleh pihak kepolisian sehingga memberikan keterangan berbeda。

STC menyebut dirinya dalam keadaan sehat jasmani dan rohani saat memberi keterangan tersebut。

“Apa yang diberitakan di beberapa media,tentang telah terjadi tindak pemerkosaan terhadap diri saya,itu tidak benar,”kata STC lagi。

Sementara,Polda Gorontalo saat ini masih menunggu hasil gelar perkara terkait penggunaan narkoba yang kini masih dilakukan di Bareskrim Mabes Polri。 Bagus berharap tidak ada yang mengambil keuntungan dari kasus tersebut。

“Mari kita selesaikan secara hukum dan jangan membuat pernyataan yang tak sesuai dengan fakta hukum,”kata Bagus。

Diintimidasi polisi

Usai dilakukan pemeriksaan,STC dan Ibunya kembali ke Manado。 Menurut kuasa hukum korban Novie Kolinug SH,STC mengubah pernyataannya karena ada intimidasi dari pihak polisi。

Kepada ,Novie menyebut proses intimidasi terjadi saat korban tengah dikonfrontasi di Polda Gorontalo pada tanggal 6-7 Juni。 Saat itu,Novie menyebut,STC dipertemukan dengan 8 pria yang diduga pelaku pemerkosaan di ruang Reskrimum Polda Gorontalo。 散文konfrontasi bukan dilakukan di ruang PPA(单位Pelayanan Perempuan dan Anak)。

Selama proses konfrontasi itu,STC justru tidak didampingi oleh siapa pun。 Baik dari keluarga,psikiater atau anggota polisi perempuan。 Alasannya tidak dikabulkan oleh penyidik kepolisian。

“Korban(akhirnya)tertekan secara psikologis,”ujarnya。

Dia menduga ada kejanggalan dalam penyelesaian kasus yang dilakukan 15 pria,di antaranya petugas polisi,kepada STC。

“Saya menduga ada keinginan untuk SP3 kasus tersebut.Makanya,saya tidak mau menanda tangani hasil konfrontir kala itu,”tutur dia。

Adanya intimidasi juga dibenarkan oleh ibu STC,RS。 Dia menyebut anaknya kerap menerima pesan singkat dari salah satu tersangka,sehingga menjadi ketakutan。

Sementara,Polda Gorontalo membantah jika ketika proses konfrontasi,STC tidak didampingi。 Kabid Humas Polda Gorontalo,AKBP Bagus Santoso mengatakan kuasa hukum ikut di dalam ruangan。 Bahkan,sebelumnya ibu korban,RS sempat berada di ruangan tersebut。

“Tetapi,di dalam ruangan penyidik,ibu korban terpaksa dikeluarkan karena terus mengintervensi korban agar dia mengakui telah terjadi tindak pemerkosaan,”ujar Bagus kepada Rappler melalui pesan pendek。

Setelah orang tuanya keluar dari ruang penyidik,barulah STC bisa leluasa mengeluarkan uneg-unegnya dan mengaku dirinya tidak pernah jadi korban tindak pemerkosaan。 Kasus pemerkosaan ini sebenarnya telah dilaporkan sejak Januari lalu。 Beberapa pelaku disebut merupakan petugas polisi。

Tetapi,polisi justru lamban dalam menindaklanjuti kasus tersebut。 Hasil visum baru keluar 3 bulan kemudian dan kasusnya baru diketahui media pada bulan Mei。 Lalu,bagaimana kasus ini akan berakhir? - Rappler.com

BACA JUGA: